Rabu, 04 April 2012

APAKAH ITU DISKRAKBILITAS??????


OLEH: ANJAR RAHARYANTI (101014056)  

BAB I
PENDAHULUAN
            Seringkali kita mendengar ada orang tua yang dipanggil oleh guru diakibatkan prestasi belajar anaknya tidak mengalami peningkatan dan bahkan justru di sekolah perilakunya membuat pusing guru dan teman-temannya. Anak yang demikian seringkali dianggap sebagai pembuat masalah dalam keluarga dan di sekolah. Mereka dianggap nakal, bodoh, tidak dapat belajar, dan tidak dapat bergaul dengan baik.
Perlu dipahami oleh para orang tua bahwa semuan anak itu sejak lahir pasti memiliki bakatnya masing-masing, bila dalam perkembangannnaya ternyata diketahui anak memiliki suatu gejala kesulitan, tentunya ada suatu hal yang menyebabkan. Salah satunya adalah gangguan belajar distrakbilitas atau bisa disebut pula gangguan yang dialami anak pada pemusatan perhatiannya.
Untuk bisa ataupun membantu anak yang memiliki gannguan tersebut tentunya diperlukan pemahaman tentang apa itu distrakbilitas, faktor penyebabnya serta cara atu solusi untuk menanganinya. Selanjutnya dalam makalah ini akan dijelaskan secara lebih gamblang tentang gannguan belajar Distrakbilitas.
Adapun fungsi pemahaman diktraktibilitas dalam Bimbingan dan Konseling adalah sebagai pemahaman konselor agar mengetahui gejala distrakbilitas, sehingga konselor dapat menyikapi anak yang mengalami distrakbilitas sesuai pada tempatnya.
           

BAB II
PEMBAHASAN
1)      Definisi Distraktibilitas
Distrakbilitas adalah bagian dari Gangguan Pemusatan Perhatian (GPP). Gangguan Pemusatan Perhatian (GPP) adalah suatu gangguan pada otak yang mengakibatkan kesulitan konsentrasi dan pemusatan perhatian. Sebanyak 80% pasien GPP memperlihatkan kesulitan belajar dan kelainan perilaku.
Distraktibilitas merupakan gangguan akibat kekurangan perhatian, anak dengan Gangguan Pemusatan perhatian (GPP) ini  mempunyai kecenderungan untuk memperhatikan rangsang yang kurang menonjol, yang dapat berupa distraktiblitas visual (penglihatan), auditoris (pendengaran), dan internal.

2)      Macam-macam Distraktibilitas
a.      Pada distraktiblilitas visual, konsentrasi visual dialihkan ke benda-benda yang dilihatnya. Kedua matanya terus menerus menyelidik dan mencari pengalaman visual yang lebih baru serta lebih baik, Akibatnya anak GPP sering memperlihatkan kekeliruan khas sewaktu membaca dan cenderung melompati kata-kata atau bahkan melewati begitu saja kalimatnya.
b.      Pada distraktibilitas auditoris menyebabkan perhatian anak GPP mudah teralih kepada suara-suara latar belakang.
c.       Pada distraktibilitas internal menyebabkan penderita terganggu oleh rangsangan yang berasal dalam dirinya berupa pikiran, ingatan maupun asosiasinya sendiri. Terlihat anak GPP sering melamun sehingga tidak memperhatikan pelajaran di kelas.

3)      Faktor-faktor yang mempengaruhi Distrakbilitas
Permasalahan gangguan atau pemusatan perhatian yang juga biasa dikenal dengan konsentrasi diperkirakan berasal dari berbagai faktor, (Iqeq, 2003), antara lain :
GPP diperkirakan berasal dari berbagai faktor, antara lain:
1.      Faktor genetik terutama pada anak laki-laki
2.      Gangguan pada masa prenatal dan perinatal
3.      Ibu hamil yang kecanduan alcohol
4.      Akibat trauma kepala
5.      Keracunan timbal, zat pewarna dosis tinggi dalam makanan
6.      Tekanan psikologis seperti tidak mendjapat perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya, sehingga kebutuhan dasar anak tidak terpenuhi.
7.      Faktor psikososial

4)      Gejala-gejala Gangguan Pemusatan Perhatian selain distrakbilitas adalah:
·         Gangguan perhatian
·         Hiperaktivitas
·         Impulsif
·         Tidak pernah puas
·         Kurang ulet
·         Selalu berubah
·         Kegagalan Sosial
·         Superfisialitas
·         Inkoordinasi
·         Adanya gangguan belajar

5)      Perbedaan antara gejala distrakbilitas dengan gejala Gangguan Pemusatan Perhatian (GPP) lain
1.      Gangguan perhatian
Anak tidak mampu memusatkan perhatiannya kepada sesuatu hal atau obyek tertentu untuk jangka waktu yang cukup lama. Beberapa ahli menyebutkan perhatian anak pada kelompok ini kurang dari 10 detik.
2.       Hiperaktivitas
Hiperaktivitas merupakan aktivitas motorik yang tingi dengan ciri-ciri aktivitas selalu berganti, tidak mempunyai tujuan tertentu, ritmis dan tidak bermanfaat. Anak hiperaktif lebih banyak mengalam gerakan mata diluar tugasnya, sehingga gerakan menoleh lebih banyak dibandingkan anak normal. Gejala tersebut akan berkurang sesuai dengan bertambahnya umur dan sebagian akan menghilang pada waktu masa remaja.
3.      Impulsif
Anak dengan GPP cenderung bertindak tanpa mempertimbangkan akibat tindakan itu. Mereka cenderung memberikan respon pertama yang masuk dalam pikirannya dan lebih senang "cepat selesai" dalam mengerjakan sesuatu dan tidak mengutamakan ketelitian. Akibat impulsivitas: anak GPP tidak tepat dalam membaca, mengeja, dan berhitung meskipun konsep dasarnya telah dikuasai dengan baik.
4.       Tidak pernah puas
Biasanya anak GPP akan selalu meminta pada orangtuanya dan bila keinginannya telah terpenuhi anak GPP tidak akan puas begitu saja tetapi akan meminta hal lain. Dan rasa tidak puas tersebut tidak menimbulkan semangat yang positif tetapi justru negatif.
5.      Kurang ulet
Anak GPP akan menunjukkan sifat kurang ulet dalam bekerja sehingga pekerjaannya jarang pernah selesai. Anak GPP juga akan mudah lelah sehingga bila berpikir lama akan mudah menguap, menggeliat. Biasanya jam tidur juga tidak berimbang. Siang hari sukar tidur dan pada malam hari sering terbangun.
6.      Selalu berubah
Perhatian anak GPP akan sangat tergantung pada motivasinya. Pada motivasi yang tinggi fokus perhatian akan lebih tajam, misalnya: mengikuti acara televisi tertentu.
7.      Kegagalan Sosial
Anak GPP sulit untuk bekerjasama dengan anak lainnya, disebabkan antara lain:
b.       Anak GPP tidak memperhatikan ekspresi wajah teman-temannya saat berkomunikasi. Hal tersebut disebabkan karena anak GPP tidak mempunyai perhatian secara visual (distraktibilitas visual)
c.        Anak GPP tidak memperhatikan kata-kata teman-temannya. Hal tersebut disebabkan karena anak GPP tidak mempunyai perhatian auditoris (distraktibilitas auditoris)
d.       Anak GPP tidak memperhatikan terhadap isyarat umpan balik sosial
e.        Anak GPP cenderung mengabaikan keseimbangan sosial dalam hal memberi,meminta dan berbagi.
8.      Superfisialitas
Anak GPP cenderung dangkal dalam hal minat dan semangatnya. Pada tahun-tahun pertama di sekolah dasar prestasinya culup baik karena pelajarannya belum terinci dan kompleks. Tetapi menginjak akhir SD atau awal SLTP, mulai timbul banyak kesulitan. Hal tersebut disebabkan disamping materi akademiknya semakin kompleks juga disebabkan karena anak GPP hanya mau belajar garis besarnya saja.
9.      Inkoordinasi
Anak GPP sukar melakukan kegiatan motorik halus, sehingga mengalami berbagai kesulitan seperti mengikatkan tali sepatu, mengancingkan baju.
10.  Adanya gangguan belajar
 Delapan puluh persen anak GPP akan mengalami kesulitan belajar. Hal itu disebabkan karena gangguan pemusatan perhatian biasanya terdapat bersama-sama dengan gangguan spesifik lainnya seperti kesulitan membaca, kesulitan berhitung. Pada umumnya orang dan pendidik menganggap gangguan pemusatan perhatian menyebabkan kesulitan belajar sehingga dengan terapi pemusatan perhatian akan meningkatkan prestasi akademis. Penelitian lebih lanjut membuktikan bahwa dengan pengobatan, pada anak GPP didapatkan adanya perbaikan perilaku dan kegiatan di sekolah sedangkan kemampuan membaca, mengeja dan matematika tidak meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa ganggaun perhatian merupakan gejala yang muncul sebagai simtom penyerta kesulitan belajar dan bukan merupakan penyebabnya.

6)      Pengaruh Sulit Berkonsentrasi terhadap Perkembangan Anak
Anak dengan permasalahan ketidakmampuan untuk memusatkan pehatian sangat berpengaruh tidak hanya bagi anak itu sendiri, tetapi juga bagi teman-teman sekelasnya. Karena kurangnya pemusatan perhatian anak sering gagal dalam mengerjakan tugas secara detail atau kesalahan dalam tugas sekolah, pelajaran atau aktivitas lainnya. Jika perilaku ini berlanjut, maka ia akan menjadi individu kurang bisa menimba ilmu, mengabaikan tugas, kurang mampu mengorganisir aktivitasnya, mudah terganggu stimulus dari luar (Ekstraneus) bahkan menjadi orang yang mudah lupa.
Contoh :
a. Seorang ibu merasa kecewa sebab anak tunggalnya tidak masuk dalam grup tari menyambut perayaan 17 Agustus. Pada awal seleksi, anak tersebut diikutkan, namun beberapa hari latihan ia tidak mampu melakukan gerakan-gerakan yang diajarkan. Setelah beberapa kali latihan dengan latihan tambahan, tidak ada cara lain selain mengeluarkan anak tersebut dari grup tari dengan alasan anak itu tidak memperhatikan apa yang diajarkan, sementara hari perayaan semakin dekat. Pendidik yang bijak adalah hendaknya melatih anak yang perhatiannya kurang terpusat dalam grup tari yang gerakannya begitu mudah serta group itu tidak untuk diperlombakan melainkan sekedar ikut meramaikan.
b.   Untuk kesekian kalinya seorang Pendidik di sebuah TK mengeluh pada seorang orangtua murid yang masih tertinggal jauh dalam melafalkan kata-kata baru. Telah berbagai cara dan peragaan yang dilakukan pendidiknya tetapi tetap saja dengan hasil yang sama, melafalkannya hanya sekali pengulangan selanjutnya ia tidak mampu. Setelah diidentifikasi ternyata murid tersebut lebih tertarik pada stimulus luar berupa bunyi khas penjual mainan yang selalu mangkal di depan sekolah. Perhatiannay lebih tertuju pada bunyi tersebut dibandingkan dengan instruksi pendidik untuk melafalkan kata-kata baru.
7)      Penanganan anak Distrakbilitas
Ø   Intervensi
Hal yang perlu diingat dalam memberikan intervensi anak yang memiliki konsentrasi yang rendah haruslah sabar dan jangan memaksa karena anak cenderung memberontak. Cermati keisengan anak, apakah anak senang melaksanakan program kegiatan melalui cerita atau bermain dengan menggunakan alat.
a.       Mencermati aktivitas atau kegiatan yang disukainya, dengan ciri anak akan memiliki perhatian yang lebih pada aktivitas tersebut dibandingkan dengan yang lain. Misalnya, anak suka sekali memperhatikan gambar-gambar hewan. Hal ini dapat dijadikan dasar pendekatan kepada anak melalui hal yang disukainya.
b.      Mengajarkan dan menguatkan perhatian yang terfokus dan mendetail. Anak dibanding bersama utuk memperhatikan sesuatu dengan seksama. Misalnya dengan memperhatikan stimulus yang berupa gambar-gambar untuk mecari persamaan dan perbedaan. Selain itu, bagi anak-anak yang suka bermain balok dan puzzle, dapat bersama-sama mengerjakan jenis-jenis mainan edukatif seperti ini dapat melatih daya konsentrasi anak.
c.       Dalam menata ruangan kelas, haruslah rapi sehingga anak tidak cepat beralih perhatiannya.
d.      Memberi pujian atau ganjaran kepada anak, bila anak dapat berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Perlu diperhatikan bahwa tugas yang diberikan jangan terlalu sulit atau terlalu mudah dan dalam proses menyelesaikan tugas.
Selain intervensi di atas, maka intervensi praktis melalui langkah-langkah penanganan bagi anak dengan gangguan perhatain atau sulit berkonsentrasi digambarkan dalam beberapa pendekatan berikut :
1.      Mengelola kelas oleh pendidik (Schacher, 1991) sebagai berikut :
a.       Memberikan intruksi yang jelas atau komentar yang jelas disertai dengan ritem suara, mimik dan gerakan yang mengundang perhatian anak tetapi tidak berlebihan.
b.      Berhenti sejenak untuk memberikan kontrol non-verbal dengan menatap anak yang bermasalah atau mengabaikan dengan menatap anak yang bermaslah atau mengabaikan tugasnya dengan tidak atau kurang memperhaitkan, perlahan mendekati teman sebayanya kemudian mendekatinya dan mengubah posisi sebagian kontrol non-verbal.
c.       Mengembalikan fokus pada tugas.
d.      Memberikan dorongan dengan penjelasan
e.       Mengechoh tugas atau membrikan aturan-aturan dalam nada rendah.
f.       Memberikan pertanyaan tentang perilaku, menanyakan apa yang sedang dilakukan.
g.      Deskripsi perilaku untuk mengidentifikasi penyimpangan atau gangguan, dengan mendekati anak dan mengarahkannya untuk mendeskripsikan perilakunya dengan nada rendah.
h.      Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ringan dan simple mengenai masalah untuk membangun komunikasi dua arah, diarahkan untuk bisa berbagi.
i.        Memberikan pilihan yang dipaksakan, dengan mengintruksikan kebebasan memilih alternatif dengan pengantar kata atau dan konsekuensi pilihan adalah tidak boleh salah pilih.
j.        Pengarahan kembali dengan selang waktu atau jeda waktu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya konfrontasi atau mereda perdebatan. Bila keadaan sudah parah, artinya pendidik sudah berusaha semaksimal mungkin, maka segera komunikasikan hal ini kepada ogantua anak untu memberikan intervensi lebih lanjut.
2.      Mengelola kontingensi Sekolah-Rumah
                 Akan lebih baik lagi jika intervensi yang diberikan dibangun atas kerjasama dan koordinasi yang baik antara orangtua dan pendidik. Koordinasi ini dapat ditempuh melalui managemen kontingensi sekolah-rumah. Menagemen kontingensi sekolah-rumah adalah upaya yang dilakukan untuk menangani anak yang sulit berkonsentrasi, penaganan ini dilakukan tidak hanya disekolah oleh pendidik melainkan saat dia ada di rumah oleh orangtuanya. Managemen penanganan dilakukan dengan tetap mengontrol penampilan akademik maupun tingkah laku anak oleh orang tua dan pendidik. Teknik penanganan ini diupayakan untuk membuat anak dapat mengurangi perilaku mengganggu di kelas serta meningkatkan kinerja pada berbagai tugas sekolah, sekaligus dapat digunakan untuk memecahkan masalah di rumah. Inti penanganan dengan teknik ini adalah memuji perilaku yang tepat dan perlunya pengingat atau hukuman yang perilaku yang tidak tepat. Keberhasilan penanganan ini tergantung pada kemanapun pendidik untuk memonitor perilaku murid dan menyediakan umpan balik secara tegas. Selain itu, di rumah pun orang tua berperan aktif dalam menerapkan teknik penanganan ini. Kerjasama antara orangtua dan pihak sekolah dalam penerapan program penanganan ini harus ada konsistensi (Glasser, 1996).
                     Contoh :Anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian atau kesulit berkonsentrasi diintruksikan oleh pendidik (bila di sekolah) dan orang tua (bila di rumah) untuk tidak melakukan perilaku mengabaikan tugas atau hendaknya ia lebih memusatkan perhatiannya. Dengan berbagai pola ketentuan dan monitor yang tepat atau kerjasama orangtua dan pendidik, anak melakukan perilaku target yang ingin mendapat reword, apakah berupa pujian atau dalam bentuk insentif atau mungkin berupa benda yang dapat menjadi stimuli perilaku target itu untuk terus dimunculkan, sehingga pada akhirnya nanti akan menjadi perilaku yang melekat. Demikian pula halnya jika perlunya pengingat berupa hukuman ataupunshment untuk perilaku yang tidak diinginkan. Penangaran anak dengan permasalahan perilaku dapat menggunakan teknik ini, apabila hiperaktiv, pemalu, suka menangis, enuresis dan encopresia, takut dan permasalahan perilaku lainnya yang terjadi pada anak.
3.      Pelatihan kemampuan sosial.
                     Pelatihan ini bertujuan untuk menolong anak yang kesulitan dalam memusatkan perhatiannya atau kesulitan berkonsentrasi pada saat berinteraksi dengan teman sebaya. Pelatihan meliputi teknik untuk masuk suatu kelompok, hubungan timbal balik dengan teman, menyelesaikan konflik dan mengontrol kemarahan.
                     Contoh : Melibatkan anak-anak yang kesulitan dalam berkomunikasi atau memusatkan perhatian dalam menyelesaikan tugas dalam bentuk bermain puzzle yang dikondisikan dalam bentuk kelompok. Bentuk permainan puzzle yang memerlukan konsentrasi yagn tinggi dan harus dikerjakan bersama, diharapkan akan terjadi interaksi yang membuat anak dapat belajar berkomunikasi, mengontrol diri dan bekerjasama dengan anak yang lain.
4.      Mengurangi struktur dan stimulus
William Cruickshank mengembangkan perogram pendidikan bagi murid yang kesukaran belajar berdasarkan pada perkembangan awalnya (dalam Hallan & Kauffman, 1994) Anak dengan masalah perhatian mudah sekali perhatiannya berpindah-pindah, maka stimulus yang diberikan pada program kegiatan belajar atau lingkungan kelas yang tidak relevan harus dikurangi. Hal yang menginginkan dari pendidk dalam menyikapi hal ini adalah menaikkan intensitas melalui penggunaan warna-warna verah pada stimulus yang berhubungan dengan program kegiatan berlajar tanpa harus menambahkan jumlahnya.
                         Pengurangan stimulus dapat dicapai melalui beberapa modifikasi :
                   a. Dinding pada langit-langit yang kedap udara
                   b. Berkarpet
                   c. Jendela yang tidak tembus pandang (buram)
d. Lemari dan rak yang terkunci
e. Pengurangan penggunaan papan yang berwarna
f. Menggunakan tempat yang berbentuk kubik dan berisi.

Ø  Strategi-strategi yang Sesuai
1.      Strategi untuk gaya belajar visual adalah:
a.      manfaatkan pengkodean warna untuk membantu daya ingat dengan menggunakan pena warna-warni
b.      tulis kalimat dan istilah yang merupakan kunci dari buku pelajaran
c.       apabila mempelajari yang bersifat angka–angka dan rumus tulislah pemahaman anda dalam bentuk tulisan
d.      tandai pada bagian pinggir buku pelajaran dengan kata-kata kunci ,symbol dan diagram yang dapat menolong untuk mengingat teks yang telah di baca
e.      sedapat mungkin terjemahkan kata-kata dan ide-ide ke dalam symbol, gambar, dan diagram
2.      Strategi untuk gaya belajar auditori
a.       bergabung dengan kelompok belajar untuk membantu mempelajari bahan-bahan pelajaran
b.      ketika belajar sendiri , ucapkan informasi-informasi dengan suara keras
c.       gunakan tape recorder untuk merekam informasi yang penting setelah itu dengarkan kembali informasi penting tersebut
d.      apabila mempelajari informasi yang bersifat angka dan rumus terjemahkan dengan cara anda sendiri yang dapat anda mengerti
e.       tenteng informasi baru tersebut ,lalu kembali di dengarkan/dibaca untuk memahaminya
3.      Strategi untuk gaya belajar kinestetik
a.       duduklah di depan kelas dan buat catatan selama pelajaran
b.      ketika belajar jalan mondar-mandir sambil mengingat informasi yang penting
c.       dalam mengingat infoemasi yang baru ,salinlah poin-poin kunci pada kertas atau karton yang besar
d.      pikirkan cara-cara untuk membuat pengetahuan  itu nyata ,seperti memegang sesuatu yang berkaitan dengan  dengan apa yang di pelajari, mis belajar tentang tumbuhan maka carilah tumbuhan yang sesuai  dgn pelajaran tersebut dan lakukan eksperimen


BAB III
PENUTUP

Simpulan

Akibat kekurangan perhatian, anak distrakbilitas mempunyai kecenderungan untuk memperhatikan rangsang yang kurang menonjol, yang dapat berupa distraktiblitas visual (penglihatan), auditoris (pendengaran), dan internal.
Distrakbilitas adalah bagian dari Gangguan Pemusatan Perhatian (GPP).
Penanganan anak Distrakbilitas, antara lain:
o   Intervensi
o   Mengelola kelas oleh pendidik
o   Mengelola kontingensi Sekolah-Rumah
o   Pelatihan kemampuan sosial.
o   Mengurangi struktur dan stimulus





                                                        DAFTAR PUSTAKA        

New SKP. 2005. Gangguan Pemusatan Perhatian Pada Anak. (Online).             (http://iptekbenewskp.blogspot.com/2005/08/bagaimana-melindungi-otak-anak-     ii.html). diakses 15 November 2011: 20.40.
Nursalim, Mochamad, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Surabaya : Unesa University press.
Poetry. 2009. Macam distrakbilitas.(Online).(http://poetry-               womansguide.blogspot.com/2009/10/macam-distrakbilitas.html). diakses 3 November        2011: 16.20.
Sanjaya, Fenky. 2011. Gaya Belajar. (Online).          (http://iptekbenewskp.blogspot.com/2005/08/bagaimana-melindungi-otak-anak-            ii.html). diakses 15 November 2011: 20.31.




0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Teman-teman kami bilang kami ini kembar, padahal kenyataannya jauh berbeda. Kesamaan kami hanyalah kami sama-sama wanita, kami berasal dari daerah yang sama, kami dalam kelas yang sama, dan huruf awal nama kami sama-sama 'A".