Sabtu, 31 Maret 2012

Konseling Kelompok Realita untuk Mengurangi Perilaku Membolos Siswa


MAKALAH
Konseling Kelompok Realita untuk Mengurangi Perilaku Membolos Siswa
Sebagai Tugas Akhir Mata Kuliah Teori-Teori Konseling

logo baru.jpg

Oleh    :
Anjar Raharyanti                 (101014056)
BK-B 2010
Dosen Pembimbing   :
Dr. Eko Darminto, M. Si
Denok Setiawati. S. Psi, M. Pd

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


KATA PENGANTAR
Puji syukur kami kami panjatkan kepada kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahNya sehingga kami bisa menyelesaikan makalah  Konseling Kelompok realita untuk Mengurangi Perilaku Membolos Siswa sebagai tugas dari mata kuliah Teori-teori konseling ini tepat pada waktunya.
Makalah ini tidak akan pernah kami selesaikan tanpa adanya keterlibatan dari pihak-pihak lain. Oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada:
1.      Bapak Eko Darminto dan Ibu Denok selaku dosen pembimbing mata kuliah Teori-teori Konseling kami.
2.      Pihak-pihak lain yang telah membantu.
Kami juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat kami harapkan demi revisi makalah-makalah kami selanjutnya. Terimakasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kami selaku penulis dan juga bagi pembaca.

Surabaya, 14 Desember 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul………………………………………………………………..   i
Kata Pengantar.................................................................................................   ii
Daftar Isi. ..........................................................................................................   iii
BABI PENDAHULUAN
A.  LatarBelakang.........................................................................................   1
B.  RumusanMasalah....................................................................................   2
C.  Tujuan......................................................................................................   2

BABII PEMBAHASAN
A.    Pengertian tingkah laku membolos.........................................................   3
B.     Sebab-sebab siswa membolos ................................................................   3
C.    Pengertian konseling kelompok realita ...................................................   4
D.    Ciri-ciri konseling kelompok realita .......................................................   9
E.     Cara konseling kelompok realita dalam
mengurangi tingkah laku membolos……………………………………. 11

BAB III PENUTUP
A.    Simpulan.................................................................................................   14
B.     Saran.......................................................................................................   14
DaftarPustaka.....................................................................................................  15



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
         Seperti yang dikemukakan oleh Kartono (2003:21) bahwa “membolos merupakan perilaku yang melanggar norma-norma sosial sebagai akibat dari proses pengkondisian lingkungan yang buruk”.
         Berdasarkan definisi  di atas diketahui bahwa masalah yang melatar belakangi tingkah laku membolos sekolah ternyata memiliki dampak yang buruk bagi diri siswa sendiri maupun sekolah. Bagi diri siswa sendiri tingkah laku membolos dapat menghambat perkembangan belajar yang sering dihubungkan dengan penurunan nilai akademik, ketinggalan materi pelajaran, dimarahi oleh guru bidang studi yang menuntut pengumpulan tugas atau nilai ulangan harian, diskorsing, bahkan dikeluarkan dari sekolah.
         Sedangkan dampak buruk bagi sekolah, siswa yang membolos sering mencontoh gaya penampilan teman sebaya dari sekolah lain yang tidak sesuai dengan aturan yang ada di sekolahnya sehingga menghambat kedisiplinan yang diterapkan dan siswa yang membolos dapat menghambat pencapaian tujuan pembelajaran di kelas.
         Oleh karena itu diperlukan bantuan dari konselor sekolah atau guru pembimbing untuk mengatasi tingkah laku membolos tersebut. Upaya-upaya penanggulangan yang dapat dilakukan yaitu dengan memanfaatkan layanan bimbingan dan konseling. Salah satu bantuan yang dapat diberikan adalah dengan konseling kelompok. Konseling kelompok merupakan salah satu layanan bimbingan dan konseling dimana konselor terlibat dalam hubungan dengan sejumlah konseli pada waktu yang bersamaan, dengan berinteraksi satu sama lain, para anggota membentuk hubungan yang bersifat membantu yang memungkinkan mereka dapat mengembangkan pemahaman dan kesadaran terhadap dirinya.




B.     Rumusan Masalah
Masalah pada makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apakah pengertian tingkah laku membolos?
2.      Apakah sebab-sebab siswa membolos?
3.      Apakah pengertian Konseling Kelompok Realita?
4.      Apa sajakah ciri-ciri konseling kelompok realita?
5.      Bagaimanakah cara konseling kelompok realita dalam mengurangi tingkah laku membolos?

C.    Tujuan
Tujuan dari pembahasan makalah ini sebagai berikut :
1.      Mengetahui pengertian dari tingkah laku membolos.
2.      Mengetahui sebab-sebab siswa membolos.
3.      Mengetahui pengertian konseling kelompok realita.
4.      Mengetahui ciri-ciri konseling kelompok realita.
6.      Mengetahui cara konseling kelompok realita dalam mengurangi tingkah laku membolos.








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Tingkah Laku Membolos
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  “membolos adalah tidak masuk bekerja (sekolah, dsb)”. Sedangkan menurut Badudu dan Zain (2001) membolos adalah sengaja tidak masuk sekolah atau tidak masuk kerja.
Membolos dapat diartikan sebagai perilaku siswa yang tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak tepat. Atau bisa juga dikatakan ketidak hadiran tanpa alasan yang jelas.
Membolos merupakan salah satu bentuk dari kenakalan siswa, yang jika tidak segera diselesaikan / dicari solusinya dapat menimbulkan dampak yang lebih parah. Oleh karena itu penanganan terhadap siswa yang suka membolos menjadi perhatian yang sangat serius.
Penanganan tidak saja dilakukan oleh sekolah, tetapi pihak keluarga juga perlu dilibatkan. Malah terkadang penyebab utama siswa membolos lebih sering berasal dari dalam keluarga itu sendiri. Jadi komunikasi antara pihak sekolah dengan pihak keluarga menjadi sangat penting dalam pemecahan masalah siswa tersebut.

B.     Sebab-sebab Siswa Membolos
Penyebab anak membolos ada 2 faktor penting, yaitu:
a.    Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri, yaitu:
1.    Motivasi atau dorongan
Ada kalanya anak menjadi patah semangat karena kurangnya motivasi dalam diri anak itu sendiri.
2.    Kemampuan belajar
Anak membolos bisa juga karena kemampuan belajarnya rendah dan malu untuk mengakui kekurangannya, lebih baik mengatakan, “saya tidak masuk waktu guru menerangkan tentang pelajaran itu” daripada mengatakan “saya tidak bisa menangkap penjelasan yang diterangkan guru”.
3.    Akibat kegagalan
Ada kalanya dalam belajar siswa mengalami kegagalan, akibat kegagalan yang dialami tersebut di sering dicemooh oleh teman-temannya, dan akhirnya lebih baik membolos saja.
4.    Rasa rendah diri
Kemampuan yang dimiliki setiap anak tidak sama, bagi anak yang mempunyai kemampuan rendah dibanding teman-temannya, maka hal ini akan menyebabkan anak menjadi rendah diri atau minder.
5.    Kesalahan dalam belajar
Siswa merasa mendapatkan sesuatu yang lebih menarik dari pada kegiatan di sekolah, hal ini merupakan suatu kesalahan dalam belajar. Karena dengan membolos siswa tidak akan mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya.
b.      Faktor yang berasal dari luar diri siswa, yaitu:
1.    Dari keluarga
Adanya anggapan dari orang tua tentang kurang pentingnya pendidikan, sehingga ada orang tua yang melindungi anaknya membolos.
2.    Interaksi guru dengan siswa
Interaksi ini banyak bergantung pada setiap guru dalam menghadapi murid, ada kalanya guru tidak mengetahui kalau ada siswa yang merasa terasing di tangah-tengah teman sekolahnya.
3.    Dari teman
Pengaruh teman-temannya sangat besar dalam membolos sekolah, ada hal-hal menarik yang bisa dilakukan dengan teman-temannya ketika membolos sekolah.

C.    Pengertian Konseling Kelompok Realita
      Konseling kelompok adalah suatu proses interpersonal yang menggunakan berbagai teknik konseling yang dilaksanakan dalam wadah kelompok dengan cara setiap anggota kelompok mengeksplorasi masalah dan perasaan-perasaannya dan dengan bantuan konselor berusaha untuk mengubah sikap dan nilai-nilainya sehingga memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengembangkan diri dan situasi pendidikannya.
Pemecahan masalah dalam konseling kelompok dilaksanakan dalam situasi kelompok dengan anggota kelompok yang meliputi orang yang memiliki masalah yang sama maupun berbeda untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan konseling kelompok tersebut. Anggota kelompok biasanya meliputi orang yang mempunyai masalah yang bersamaan atau memperoleh manfaat dari partisipasinya dalam konseling kelompok.
Tujuan konseling kelompok yaitu untuk pemecahan masalah baik yang ringan maupun yang berat, perubahan pandangan, sikap dan tingkah laku, serta bermanfaat bagi pengembangan pribadi melalui interaksi dengan orang lain. Dalam setting sekolah Nursalim dan Hariastuti menambahkan bahwa konseling kelompok bermanfaat untuk membantu individu dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dalam tujuh bidang yaitu: psikososial, vokasional, kognitif, fisik, seksual, moral dan afektif.
Berkaitan dengan tujuan dan manfaatnya, maka konseling kelompok merupakan proses yang menggunakan teknik-teknik konseling dan fungsi-fungsi terapis, maka perlu suatu penanganan terhadap permasalahan tertentu dengan teknik ataupun pendekatan konseling tertentu. Seperti permasalahan di atas yaitu tentang kebiasaan membolos yang merupakan proses pembentukan perilaku yang lebih menekankan pada kesadaran siswa.
Konseling realita merupakan bentuk terapi yang berorientasi pada tingkah laku sekarang dan konseling realitas merupakan suatu proses yang rasional. Konseli diarahkan untuk menumbuhkan tanggung jawab bagi dirinya sendiri. Reality Therapy memandang konseling sebagai suatu proses yang rasional. Dalam proses tersebut konselor harus menciptakan suasana yang hangat dan penuh pengertian serta yang paling penting menumbuhkan pengertian klien bahwa mereka harus bertanggungjawab bagi dirinya sendiri.
Konseling kelompok  realita adalah suatu upaya  bantuan kepada individu dalam suasana kelompok dimana dapat diperoleh dukungan dan empati yang diperlukan dalam rangka memenuhi kebutuhan mereka yaitu perilaku yang tidak produktif dan merusak diri pada saat sekarang. Tingkah laku membolos merupakan perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain serta merupakan perilaku yang tidak bertanggung jawab. Penggunaan konseling kelompok realita membantu siswa berperilaku yang lebih bertanggung jawab dengan cara mengajak siswa menilai perilaku mereka serta menyusun rencana atau kontrak perilaku yang harus mereka laksanakan dalam upaya untuk mengurangi tingkah laku membolos.
Konseling kelompok realita adalah mengajarkan realita kepada konseli mengenai cara-cara yang baik untuk memenuhi kebutuhannya secara bertanggung jawab, selain itu tujuan dari konseling kelompok realita adalah membantu anggota kelompok untuk memikul tanggung jawab bagi dirinya sendiri, kemampuan bertindak sedemikian rupa yang memungkinkan individu memenuhi kebutuhannya dengan tanpa mengorbankan orang lain serta membantu konseli dalam membina tujuan hidupnya, tujuan hidup ini ada meliputi tujuan jangka pendek misalnya ingin berhenti membolos dan jangka panjang misalnya ingin memperoleh pekerjaan yang layak setelah lulus sekolah.
a.       Konsep Utama Konseling Realita
Konsep utama menurut pandangan Glasser (dalam Fauzan & Flurentin, 1994) yang dikemukakan adalah sebagai berikut:
a.       Manusia adalah makhluk rasional (Rasional Being)
Manusia pada dasarnya adalah makhluk rasional, oleh karena itulah maka pola  tingkah laku individu lebih banyak dipengaruhi oleh pola-pola pikir individu tersebut dan bukan oleh aspek kepribadian yang lain.
b.      Manusia memiliki potensi dan dorongan untuk belajar dan tumbuh (growth force)
Sebagai makhluk yang memiliki potensi dan kekuatan, manusia dipandang mampu mengambil keputusan bagi dirinya sendiri yang biasa disebut self determining.
c.       Manusia memiliki kebutuhan dasar (basic needs)
Glesser lebih memusatkan perhatian pada kebutuhan psikologis dasar yang penting yaitu kebutuhan cinta mencintai (the need to love and to be loved) dan kebutuhan akan kebergunaan diri, merasa dirinya berguna atau berharga (the need to feel worthwhile).


d.      Manusia memerlukan hubungan dengan orang lain
Pemenuhan kebutuhan dasar memerlukan keterlibatan orang lain. Jika individu mengasingkan diri dalam kehidupan sosialnya, maka kebutuhan dasar individu tidak akan dapat terpenuhi. Oleh karena itu hubungan langsung dengan orang lain sangatlah penting bagi perkembangan diri seseorang, keterlibatan orang lain ini diperlukan individu sejak dini dalam keseluruhan perkembangannya.
e.       Manusia mempunyai motivasi dasar untuk mendapatkan identitas diri yang sukses (succses identity)
Konsep kebutuhan dasar oleh Glasser digabungkan sebagai motivasi dasar untuk mendapatkan identitas diri. Hal tersebut menunjuk pada penentuan diri sebagaimana diri kita, yang kita pandang yang mencakup keunikan, keterpisahan dan kebermaknaan diri. Ada dua macam identitas diri yang bersifat dinamik yaitu identitas sukses dan identitas gagal (success identity and failure identity).Identitas sukses mengacu pada individu yang melihat dirinya sebagai orang yang berkemampuan, cakap dan berguna, mempunyai kekuatan untuk mengelolah lingkungannya dan yakin akan kehidupannya sendiri. Sedangkan identitas gagal menunjuk pada individu yang tidak dapat mengembangkan hubungan personal yang dekat dengan orang lain, tidak dapat bertindak secara bertanggung jawab, merasa tidak berdaya, tidak mempunyai harapan, dan merasa tidak berharga. Dan secara intrinsik, sesungguhnya manusia memiliki motivasi untuk mencapai identitas sukses. Misalnya setiap orang pasti menginginkan jabatan atau kedudukan yang layak di masyarakat, setiap siswa ingin mendapat prestasi bagus, banyak teman dan sebagainya.
f.       Manusia selalu menilai tingkah lakunya
Terkait dengan konsep sebelumnya bahwa manusia pada dasarnya selalu mengadakan penilaian terhadap tingkah lakunya. Penilaian diri itu mungkin positif dan mungkin pula negatif.
g.      Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia terikat pada 3R (Responsibility, Reality, dan Right)
Responsibility merupakan tanggung jawab atas perilaku dan pemenuhan kebutuhan dirinya, Glesser mendefinikan tanggung jawab sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dengan cara yang tidak merugikan, merampas atau mengorbankan orang lain dalam memenuhi kebutuhan mereka. Reality yakni perilaku yang nampak saat sekarang adalah bagian dari realitas dimana realitas merupakan suatu fenomena yang dapat diamati, fakta yang tersusun dalam kenyataan. Dalam kerangka itulah individu harus memenuhi kebutuhannya. Sedangkan Right yakni manusia bertingkah laku sesuai dengan keputusan nilai yang dibuatnya tentang baik buruk dan benar salah.
Adapun menurut Latipun (2006) yang mengutip dari Glasser bahwa hakikat manusia pendekatan realita adalah sebagai berikut:
a.       Perilaku manusia didorong oleh usaha untuk menemukan kebutuhan dasarnya baik fisiologis.
b.      Jika individu frustasi karena gagal memperoleh kepuasan atau tidak terpenuhi kebutuhan–kebutuhannya dia akan mengembangkan identitas kegagalan, sebaliknya jika dia berhasil maka akan mengembangkan identitas keberhasilan,
c.       Individu pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk mengubah identitasnya dari identitas kegagalan ke idetitas keberhasilan,
d.       Faktor tanggung jawab adalah sangat penting pada manusia,
e.       Faktor penilaian individu tentang dirinya sangat penting untuk menentukan apakah dirinya termasuk memiliki identitas keberhasilan atau identitas kegagalan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa konsep utama konseling realita adalah manusia adalah makhluk rasional, memiliki kebutuhan dasar, kemampuan untuk mengubah identitas kegagalan menjadi identitas kesuksesan, selalu menilai tingkah lakunya, serta memiliki faktor tanggung jawab, realitas dan kebenaran dalam memenuhi kebutuhannya.



D.    Ciri-ciri Konseling Kelompok Realita
Sekurang-kurangnya ada delapan ciri yang yang menentukan terapi ralitas yaitu:
a.       Terapi realitas menolak konsep tentang penyakit mental. Bentuk gangguan tingkah laku yang spesifik adalah akibat dari ketidak bertanggungjawaban. Pendekatan ini tidak berurusan dengan diagnosis psikologis. Terapi realitas mempersamakan gangguan mental dengan ketidakberanggungjawaban dan kesehaan mental dengan tingkah laku yang bertanggungjawab.
b.      Terapi realitas berfokus pada tingkah laku sekarang. Meskipun tidak menganggap perasaan dan sikap itu tidak penting, terapi realitas menekankan kesadaran atas tingkah laku sekarang. Terapi realitas tidak bergantung pada pemahaman untuk mengubah sikap-sikap, tetapi menekankan bahwa perubahan sikap mengikuti perubahan tingkah laku.
c.       Terapi realitas berfokus pada saat sekarang, bukan pada masa lampau. Karena masa lampau sesorang itu telah tetap dan tidak dapat diubah, maka yang dapat diubah adalah masa sekarang dan masa yang akan datang, kalaupun didiskusikan dalam terapi, masa lampau selalu dikaitkan dengan tingkah laku klien sekarang. Terapis terbuka untuk mengeksplorasi segenap aspek dari kehidupan sekarang, mencakup harapan-harapan, ketakutan-ketakutan dan nilai-nilainya. Terapis menekankan kekuatan-kekuatan, potensi-potensi, keberhasilan-keberhasilan, dan kualitas yang positif dari klien dan tidak hanya memperhatikan kemalangan dan gejala-gejalanya.
d.      Terapi realitas menekankan pada pertimbangan-pertimbangan nilai. Terapi realitas menempatkan pokok kepentingannya pada peran klien dalam menilai kualitas tingkah lakunya sendiri dalam menentukan apa yang membantu kegagalan yang dialaminya. Terapi ini beranggapan bahwa perubahan mustahil terjadi tanpa melihat tingkah laku dan membuat beberapa ketentuan mengenai sifat-sifat konstruktif dan destruktifnya. Jika klien sadar bahwa mereka tidak akan memperoleh apa yang mereka inginkan dan bahwa tingkah laku mereka merusak diri, maka ada kemungkinan yang nyata untuk terjadinya perubahan positif, semata-mata karena mereka menetapkan bahwa alternatif-alternatif dapat lebih baik daripada gaya mereka sekarang tidak realistis.
e.       Terapi realitas tidak menekankan tranferensi. Ia tidak memandang konsep tradisional tentang tranferensi sebagai hal yang penting. Terapi realitas memandang tranferensi suatu cara bagi terapis untuk tetap bersembunyi sebagai pribadi. Terapi realitas mengimbau agar para terapis menjadi dirinya sendiri yang sejati tidak memainkan peran sebagai ayah atau ibunya klien. Glasser (dalam Corey, 2003: 267) menyatakan bahwa para klien tidak mencari suatu pengulangan keterlibatan dimasa lalu yang tidak berhasil, akan tetapi mencari suatu keterlibatan manusiawi yang memuaskan dengan orang lain dalam keberadaan mereka sekarang. Terapis bisa menjadi orang yang membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sekarang dengan membangun sutau hubungan yang personal dan tulus.
f.       Terapi realitas menekankan pada aspek-aspek kesadaran, bukan pada aspek ketaksadaran. Terapi realitas menekankan pada kekeliruan yang dilakukan oleh klien, bagaimana tingkah laku klien sekarang sehingga dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, dan bagaimana caranya dia bisa terlibat dalam suatu rencana bagi tingkah laku yang berhasil yang berlandaskan tingkah laku yang bertanggungjawab dan realitis. Terapi realitas memeriksa kehidupan klien sekarang secara rinci dan berpegang pada asumsi bahwa klien akan menemukan tingkah laku sadar yang tidak mengarahkan pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya. Oleh karenanya, terapi realitas menandaskan bahwa menekankan ketaksadaran berarti mengelak dari pokok masalah yang menyangkut ketidak bertanggung jawaban klien dan memaafkan atas tindakannya menghindari kenyataan.
g.      Terapi realitas menghapus hukuman. Glasser (dalam Corey, 2003: 268) mengingatkan bahwa pemberian hukuman guna mengubah tingkah laku tidak efektif dan hukuman untuk kegagalan melaksanakan rencana-rencana mengakibatkan perkuatan identitas kegagalan pada klien dan merusak hubungan terapeutik. Lebih lanjut Glasser menganjurkan untuk membiarkan klien mengalami konsekuensi-konsekuensi yang wajar dari tingkah lakunya.
h.      Terapi realitas menekankan pada tanggung jawab. Glasser (dalam Corey, 2003: 269) menyatakan bahwa mengajarkan tanggungjawab adalah konsep inti dalam terapi realitas. Jika kebanyakan hewan didorong oleh naluri, manusia mengembangkan kemampuan untuk belajar dan mengajarkan tanggung jawab. Oleh karenanya, terapi realitas menekankan fungsi terapis sebagai pengajar. Terapis mengajari para klien cara-cara yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya. Dengan mengeksplorasi keistimewaan-keistimewaan dari kehidupan sehari-harinya dan kemudian membuat pernyataan-pernyataan direktif dan saran-saran mengenai cara-cara memecahkan masalah yang lebih efektif. Terapi menjadi suatu pendidikan khusus dimana rencana-rencana dibuat serta alat-alat yang realistik dan bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan pribadi diuji.

E.     Cara Konseling Kelompok Realita dalam Mengurangi Tingkah Laku Membolos
Tingkah laku siswa yang membolos merupakan wujud bahwa siswa tersebut telah gagal memenuhi salah satu atau semua kebutuhan-kebutuhan psikologis yaitu cinta mencintai dan keberhargaan diri seperti yang telah disebutkan pada konsep pendekatan realitas diatas. Di dalam memenuhi kebutuhan tersebut siswa terikat pada kenyataaan, hak dan tanggung jawab (Reality, Rights, Responsibility disingkat 3R) yang mau tidak mau harus dihadapi. Kegagalan memenuhi kebutuhan berdasarkan 3R tersebut dapat dialami dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat bahkan mungkin ketiganya. Penyebab utama mengapa kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi adalah pelaku membolos kurang terlibat dengan orang lain, lebih lanjut kegagalan demi kegagalan yang dialami selama proses pemenuhan kebutuhan tersebut membuat siswa mengingkari kebutuhannya sendiri. Saat ia mengingkari kebutuhannya, tidak jarang ia melakukan tingkah laku yang dalam persepsinya dianggap benar yaitu membolos meskipun sebenarnya tingkah laku tersebut bertentangan dengan kenyataan dan melebihi hal yang seharusnya diperoleh serta menolak bertanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkan, bentuk penolakan tanggung jawab ini terwujud saat pelaku membolos menyalahkan orang lain  terkait dengan kondisi yang menyebabkan dia membolos.
Berdasarkan pemaparan yang dikemukakan di atas, maka dalam pemberian bantuan melalui konseling kelompok realita para pelaku membolos diajak untuk belajar menciptakan dan mengembangkan keterlibatannya baik dengan guru pembimbing maupun dengan anggota kelompok yang lain melalui tahapan-tahapan konseling kelompok realita. Dari  penjelasan diatas, maka dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:







Rounded Rectangle: Perlakuan dengan konseling kelompok realita
Konseling kelompok realita: mengajarkan realita kepada konseli mengenai cara yang baik untuk memenuhi kebutuhan secara bertanggung jawab


Rounded Rectangle: Frekuensi tingkah laku membolos turun




 




                                                           



Rounded Rectangle: Frekuensi tingkah laku membolos tinggi
Tingkah laku membolos:perilaku yang merugikan diri sendiri dan orang lain  serta tidak bertanggung jawab
 




Bagan 2.1
            Kerangka pikir penggunaan konseling kelompok realita untuk membantu menurunkan frekuensi tingkah laku membolos siswa
Dari bagan di atas dapat dijelaskan bahwa dalam pelaksanaan konseling kelompok realita pada masing-masing tahapan, konselor menggunakan teknik-teknik pendekatan realita, diantaranya yaitu bermain peran bersama konseli, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, menggunakan humor, mendiskusikan minat-minat pribadi, mengekplorasi dan mengklarifikasi nilai, mengkonfrontasi anggota dan tidak memaafkan perilaku yang tidak bertanggung jawab, melayani sebagai model peran dan guru, menentukan struktur dan batas pertemuan, membuka diri untuk menentang dan mengeksplorasi nilai-nilainya sendiri, membuat kontrak, merumuskan rencana tindakan khusus, mendorong anggota untuk terlibat dengan orang lain.
Secara berkelanjutan, penerapan tahap-tahap dan teknik-teknik tersebut digunakan oleh guru pembimbing untuk mengajak para anggota kelompok dengan menilai benar tidaknya tingkah laku dan bertanggung jawab serta merugikan orang lain. Setelah tercapai pemahaman, siswa akan diajak untuk merencanakan tingkah laku baru yang lebih bertanggung jawab melalui diskusi dan sumbang saran dari anggota kelompok yang lain. Guru pembimbing tidak akan mendorong siswa untuk membuat rencana selama mereka memahami nilai dari tingkah lakunya sekarang. Setelah rencana tersusun, agar siswa benar-benar melaksanakan rencana tersebut, maka dibuat komitmen bersama (contract).
Apabila siswa gagal melaksanakan rencana awal yang telah disepakati, maka guru pembimbing bersama siswa tersebut memodifikasi rencana awal dan membuat komitmen tanpa memberikan hukuman apapun pada siswa tersebut. Hukuman tersebut diberikan karena rencana yang telah disusun telah mengandung konsekuensi tersendiri. Contohnya, siswa membolos karena ia tidak mengerjakan PR, maka konsekuensi yang mengikuti adalah nilai tugas dari guru bidang studi nol.
  Berdasarkan pemaparan di atas, maka disimpulkan bahwa:
1.    dengan konseling kelompok realita diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa sehingga tingkah laku membolos pada siswa berkurang,
2.    dengan konseling kelompok realita dapat menumbuhkan tanggung jawab pada diri, khususnya bagi siswa yang melakukan tingkah laku membolos dengan frekuensi tinggi,
3.    diharapkan melalui konseling kelompok ada peningkatan ketrampilan sosial untuk mencegah munculnya keinginan melakukan tingkah laku membolos.

BAB III
PENUTUP


A.    Simpulan
Tingkah laku siswa yang membolos merupakan wujud bahwa siswa tersebut telah gagal memenuhi salah satu atau semua kebutuhan-kebutuhan psikologis yaitu cinta mencintai dan keberhargaan diri. Di dalam memenuhi kebutuhan tersebut siswa terikat pada kenyataaan, hak dan tanggung jawab (Reality, Rights, Responsibility disingkat 3R) yang mau tidak mau harus dihadapi. Bentuk penolakan tanggung jawab ini terwujud saat pelaku membolos menyalahkan orang lain  terkait dengan kondisi yang menyebabkan dia membolos. Dalam pemberian bantuan melalui konseling kelompok realita ini para pelaku membolos diajak untuk belajar menciptakan dan mengembangkan keterlibatannya baik dengan guru pembimbing maupun dengan anggota kelompok yang lain melalui tahapan-tahapan konseling kelompok realita.
B.     Saran
Konseling kelompok realita diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa sehingga tingkah laku membolos pada siswa berkurang,
Diharapkan pula melalui konseling kelompok realita ini ada peningkatan ketrampilan sosial untuk mencegah munculnya keinginan melakukan tingkah laku membolos.










DAFTAR PUSTAKA


Darminto, Eko. 2007. Teori-teori Konseling. Surabaya: Unesa University Press.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005. Edisi Kedua. Jakarta: Bina Pustaka.
Kartono, Kartini. 2003. Patologi Sosial 2 Kenakalan Remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Nursalim, Moch dan Hariastuti, Retno T. 2007. Konseling Kelompok. Surabaya: Unesa University Press.


0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
Teman-teman kami bilang kami ini kembar, padahal kenyataannya jauh berbeda. Kesamaan kami hanyalah kami sama-sama wanita, kami berasal dari daerah yang sama, kami dalam kelas yang sama, dan huruf awal nama kami sama-sama 'A".